Cari Blog Ini

Rabu, 06 Oktober 2010

MASALAH UTAMA GANGGUAN ALAM PERASAAN(DEPRESI)

DEPRESI
 
•  MASALAH UTAMA Gangguan alam perasaan: depresi.  
•  PROSES TERJADINYA MASALAH

Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan.
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagai­nya.
Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedah­an, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras.
Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
•  Gangguan alam perasaan: depresi
•  Data subyektif:
Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatic seperti ; nyeri abdomen dan dada, anoreksia, sakit punggung,pusing. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri. Pasien mudah tersinggung dan ketidakmampuan untuk konsentrasi.
 
•  Data obyektif:
Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan lang­kah yang diseret.Kadang-kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering me­nangis. Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong, konsentrasi tergang­gu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi. Kadang-kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu. Pada pasien depresi juga mengalami kebersihan diri kurang dan keterbelakangan psikomotor.
•  Koping maladaptif
•  DS : Menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.
•  DO : Nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.
Mekanisme koping yang digunakan adalah denial dan supresi yang berlebihan .
 
•  DIAGNOSA KEPERAWATAN
•  Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi.
•  Gangguan lam perasaan: depresi berhubungan dengan koping maladaptif.
 
•  RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
•  Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.
•  Tujuan khusus
•  Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
•  Perkenalkan diri dengan klien dengan cara menyapa klien dengan ramah, baik verbal dan non verbal, selalu kontak mata selama interaksi dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
•  Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati
•  Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan.
•  Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai dengan keinginannya
•  Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti
•  Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan orang lain.
 
•  Klien dapat menggunakan koping adaptif
•  Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien.
•  Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan sedih/menyakitkan
•  Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan
•  Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.
•  Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima
•  Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih
•  Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.
 
•  Klien terlindung dari perilaku mencederai diri
Tindakan:
•  Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri.
•  Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan olch pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci.
•  Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.
•  Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.
 
4. Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
4.1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
4.2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
4.3. Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, k eyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).
 
5. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
5.1. Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu (orang-orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).
5.2. Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
5.3. Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).
 
•  Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan:
6.1. Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
6.2. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
6.3. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
6.4. Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar



Kesehatan

Jiwa

Senin, 03-08-2009 18:23:04 oleh: Agung Hadi
Kanal:Opini

Ketika dokter menyatakan dirinya menderita tekanan darah tinggi, seorang pasien langsung mengatakan kepada sang dokter. "Tekanan darah tinggi saya ini datang dari keluarga saya, dok.."

"Dari keluarga ayah atau ibu?"

"Bukan dari dua-duanya,tapi dari keluarga istri saya" jawab pasien.

"Wah, kok bisa? Bagaimana mungkin anda bisa terkena darah tinggi yang bukan keturunan dari keluarga anda ya?" kata sang dokter kebingungan.

Pasien itu menarik napas dalam sambil mengatakan, "Sayang..pak dokter belum pernah bertemu dengan mereka sih.."

Begitulah diri kita, batin yang tertekan mempengaruhi kesehatan tubuh kita. Kesehatan badan kita tidak dapat dipisahkan dari kesehatan jiwa kita. Apa yang terjadi pada batin kita akan mempengaruhi kondisi badan kita. Batin yang sakit menyebabkan tubuh kita juga menjadi sakit.

Seringkali kita berpikir bahwa mencegah penyakit hanya dengan melalui olah raga, makan yang bergizi dan menjaga kebersihan. Kita lupa sesuatu yang begitu penting bagi jiwa yaitu menjaga pikiran dari berburuk sangka pada orang lain dan mendoakan orang-orang di sekeliling kita, menebarkan senyuman kepada setiap orang yang dijumpai itulah yang membuat jiwa kita menjadi sehat.

--- (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram (QS: Ar Ra'd: 28 )

Kesehatan Jiwa Telah Bergeser
Kriteria Kesehatan Jiwa Telah Bergeser


Published in : The Articles, Psychological and Physical Disorders

Sampai dengan tahun 1970-an, apa yang disebut gangguan jiwa atau sakit jiwa masih sangat jelas, bahkan orang awampun dapat dengan mudah mengidentifikasi penyandang gangguan jiwa dan menyebutnya sebagai "gila" atau "syaraf" (istilah ini keliru, karena awam menyangka gangguan jiwa ada hubungannya dengan peyakit pada syaraf/neuron). Buat para psikiater dan psikolog klinis, kriterianyapun relatif mudah karena ada acuan yang jelas, yaitu DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) yang versinya direvisi dari waktu ke waktu. Dengan mengacu kepada DSM itulah psikiater atau psikolog klinis mendiagnosa pasiennya berdasarkan berbagai simptom (gejala) yang nampak. Penderita halusinasi (seakan-akan mendengar suara atau melihat sesuatu) akan didagnose sebagai schizophrenia, sedangkan gejala phobia (ketakutan yang tidak jelas terhadap sesuatu) atau obsesi-kompulsi (melakukan sesuatu secara berulang-ulang dan terus menerus) dikategorisasasikan sebagai psikoneurosis dan seterusnya. Dengan demikian terapi terhadap penderita gangguan jiwa juga lebih terarah: terapi medik, psikoterapi, konseling atau kombinasi antara ketiganya.

Tetapi, sejak tahun 1970-an kehandalan DSM mulai dipertanyakan. Salah satu indikasinya adalah ketika pada tahun 1973, American Psychological Association, melalui suatu pemugutan suara, menganulir homoseksualitas dari daftar DSM. Ketika keputusan APA ini juga disetujui oleh WHO, maka seketika itu juga jutaan penyandang homoseks sedunia dinyatakan sembuh.


Salah Diagnosa

Keraguan lain terhadap DSM adalah bahwa berbeda dari diagnosa medis untuk penyakit lain yang sekaligus bisa mengdentifikasi penyebabnya (misalnya: malaria, leukimia atau HIV/AIDS), diagnosa menurut DSM hanya bisa mengidentifikasi penyakit berdasarkan gejalanya saja. Padahal jika hanya dari gejala, besar kemungkinan akan terjdi salah diagnosa.

Pada tahun 1962, misalnya Leonard Frank, karena tiba-tiba berjanggut, menjadi vegetarian, dan beragama 'aneh', didiagnosis skizofrenia paranoid, masuk RSJ, diterapi insulin coma dan electroconvulsive, dengan dampak amnesia (akhirnya dia menjadi aktivis LSM yang menentang salah perlakuan terhadap penderita gangguan jiwa). Sebaliknya pada tahun 1964 Edmund Kemper yang pada usia 15 th membunuh kakek-neneknya, didagnosis criminally insane, dirawat dan dinyatakan sembuh 1969. Tahun 1972 dokter memberi surat keterangan tidak berbahaya lagi, sementara ia sudah membunuh 2 gadis, kemudian 2 gadis lagi dan pada 1973 2 gadis lagi dan akhirnya ibunya sendiri.

Kesalahan diagnosis lain terjadi pada anggota Kongres AS, Barry Goldwater yang di diagnosis skizofrenia paranoid, presiden AS, pemenang Nobel, Woodrow Wilson yang didagnosis sangat mirip psikosis dan semua politisi Uni Sovyet yang didiagnosis berkepribadian psikopat, cenderung paranoid atau skizofrenia (dengan alasan antara lain: reformis, bizarre)

Di samping itu, DSM dianggap sangat sedikit memperhitungkan faktor budaya. Karena itulah suatu gejala yang dianggap termasuk gangguan jiwa menurut DSM (misalnya halusinasi), sangat boleh jadi normal saja di kalangan masyarakat tertentu (misalnya di dunia Timur yang masih pecaya mistik). Sebaliknya gangguan jiwa di dunia Timur (misalnya: ngidam), tidak tercakup dalam DSM.

Dalam hubungannya dengan norma, kalau pun ada yang dijadikan tolok ukur, APA hanya menggunakan norma Barat. Kalau ada yang melanggar norma itu (termasuk hukum pidana, seperti membunuh), kalaupun tidak bisa dikategorikan sebagai penyandang ganguan jiwa, maka tergolong kriminalah dia, atau sebaliknya untuk tidak dinyatakan kriminal (dan karenanya bisa dibebaskan dari hukuman) seorag pelanggar norma harus dinyatakan sakit jiwa.


Orang normal pun terganggu jiwanya

Sementara itu, makin lama makin terbukti bahwa orang-orang yang mengeluh atau dilaporkan mengalami ketidak sehatan mental, justru adalah orang-orang normal (mentaati dan melaksanakan norm-norma masyarakat dengan baik). Orang-orang yang menderita stress dan depresi yang pada gilirannya bisa terkena penyakit-penyakit psikosomatis (sakit lambung, migrane dsb.) dan degeneratif (tekanan darah tinggi, penyakit gula dsb.) adalah para pengusaha sukses, para pejabat yang karirnya bagus dan pelajar-pelajar yang mendapat ranking tinggi. Korban-korban bunuhdiri pun bukan penderita schizophrenia atau psikoneurosis, melainkan pengusaha konglomerat dan murid sekolah (yang nilainya kalah bagus dari saudara kembarnya, atau yang mamanya tidak mampu memberi Rp 2.500 untuk kegiatan eks-kul). Pelajar di Medan yang membunuh seluruh keluarganya sendiri pun adalah remaja yang perilakunya sehari-hari cukup baik.

Demikian pula, para terhukum dalam kasus pemboman, semuanya mempunyai catatatan riwayat hidup sebagai muslim yang baik, taat beribadah dan pandai bergaul (baik dengan tetangga, banyak santrinya dsb.). Bagaimana mungkin orang-orang yang sangat normal itu justru melakukan hal-hal yang sangat destruktif?

Sebaliknya, fakta menunjukkan bahwa mereka yang berani memakai kondom, atau bahkan mengaborsi kandungannya (melanggar norma), jutru bisa hidup lebih normal (melanjutkan sekolah, berkarir, menikah dan mempunyai anak-anak), ketimbang yang memilih pernikahan dini (mengikuti norma) yang biasanya berakhir dengan perceraian, kekerasan domestik (terhadap isteri dan anak-anak) dsb.

Kasus-kasus di luar negeri pun menunjukkan makin banyaknya orang normal (taat pada norma) yang menderita gangguan mental. Di Jepang, angka bunuh diri yang tertinggi adalah di kalangan pelajar yang ibunya sangat berambisi agar anaknya selalu jadi bintang pelajar. Di AS, seorang anak yang sehari-hari tampak pendiam, bisa tiba-tiba membunuh teman-teman sekolahnya sendiri dan gurunya dengan senapan serbu. Presiden Bush adalah orang Amerika nomor satu dan karenanya boleh disebut sebagai orang yang paling normal di AS, tetapi iapun menyerang Irak hanya berdasarkan halusinasinya saja tentang senjata-senjata biologis yang disimpan oleh Saddam Husein.


Jumat, 30 Juli 2010

remembering

“Dan Tuhanmu berkata ,Berdo’alah kamu kepada-Ku, Pasti akan kuperkenankan permintaanmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina-dina” (Q.S. Al Mu’min : 60).

Rabu, 28 Juli 2010

INGATLAH

أللَّهُمَّ خَفِّضْ لَهُمَا صَوْتِي، وَأَطِبْ لَهُمَا كَلاَمِي، وَأَلِنْ لَهُمَا عَرِيْكَتِي، وَاعْطِفْ عَلَيْهِمَا قَلْبِي، وَصَيِّرْنِي بِهِمَا رَفِيقاً، وَعَلَيْهِمَا شَفِيقاً


Ya Allah
Indahkan kepada mereka ucapanku
Haluskan kepada mereka tabiatku
Lembutkan kepada mereka hatiku
Jadikan aku orang yang sangat mencintai mereka